Evania Istiqomah


Perkembangan Masyarakat Kebudayaan dan Pemerintahan pada Masa Hindu Budha di Indonesia

Posted in Uncategorized by evaniais on September 26, 2012

1.      Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur

Kerajaan Kutai berdiri sekitar tahun  400-500 masehi, dengan pusat pemerintahan terletak di aliran sungai Mahakam Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia dan kerajaan bercorak Hindu.

Raja pertamanya adalah Kudungga, sedangkan raja yang terkenal adalah Raja Mulawarman, anak dari Aswawarman, cucu dari Kudungga.

Raja Mulawarman adalah penganut Hindu Syiwa. Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti dari salah satu prasastinya yang menyebutkan tempat suci Waprakeswara, yaitu tempat suci yang selalu berhubungan dengan Trimurti (Brahmana, Wisnu dan Syiwa).

Sumber sejarah kerajaan Kutai berupa tujuh buah Yupa (tugu batu bertulis untuk peringatan upacara korban) yang diketemukan di Muarakaman daerah aliran sungai Mahakam. Yupa ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansakerta.

Kerajaan Kutai mengalami perkembangan yang pesat karena letaknya yang strategis, yaitu sebagai persinggahan kapal-kapal yang menempuh perjalanan melalui selat Makasar.

 

 

2.      Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat

Kerajaan Tarumanegara berdiri sekitar abad  ke 5 masehi, dengan pusat kerajaan di Lembah Sungai Citarum Bogor, Jawa Barat. Kerajaan tarumanegara merupakan kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat. Raja yang terkenal bernama Purnawarman.

Sumber sejarah kerajaan Tarumanegara berupa :

a.       Prasasti Ciaruteun, diketemukan di Bogor. Pada prasasti ini terdapat bekas telapak kaki Raja Purnawarman yang beragama Hindu.

b.      Prasasti Kebon Kopi, diketemukan di Bogor

c.       Prasasti Jambu, diketemukan di Bogor. Berisi tentang nama raja kerajaan Tarumanegara yang bernama Purnawarman.

d.      Prasasti Pasir Awi, diketemukan di Bogor

e.       Prasasti Muara Cianten, diketemukan di Bogor

f.       Prasasti Tugu, diketemukan di Cilincing, Jakarta. Berisi tentang letak ibukota kerajaan Tarumanegara.

g.       Prasasti Cidanghiang (Munjul), diketemukan di Lebak, Banten.

 

Kerajaan Tarumanegara sudah mengenal sistem irigasi dan pencegahan banjir yang baik, hal ini terungkap melalui prasasti Tugu, yang menerangkan penggalian sungai Cabdraraga oleh Rajadirajaguru dan penggalian sungai Gomati oleh Purnawarman yang dimaksudkan uintuk menghindari bencana banjir dan kekeringan yang terjadi di musim kemarau.

 

 

3.      Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Kerajaan Mataram Kuno berdiri sekitar abad ke 8 masehi atau sekitar tahun 732 masehi, dengan pusat kerajaan di Medang Kamulan sedangkan wilayah kekuasaannya meliputi Magelang, Muntilan, Sleman dan Yogyakarta. Raja pertamanya adalah Raja Sanjaya, seorang penganut Hindu.

Sumber sejarah utama kerajaan Mataram Kuno :

a.       Prasasti Canggal

Prasasti Canggal diketemukan di Gunung Wukir, berangka 732 masehi, yang ditulis dengan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sansakerta. Prasasti ini menceritakan tentang pendirian sebuah Lingga di desa Kunjarakunja yang bertujuan untuk memuja dewa Syiwa. Dalam prasasti ini juga dijelaskan bahwa sebelum Sanjaya naik takhta, pulau Jawa diperintah oleh Raja Sanna.

 

b.      Prasasti Kedu atau Prasasti Balitung atau Prasasti Mantyasih

Prasasti ini terbuat dari perunggu dan berangka tahun 907 masehi. Prasasti ini berisi tentang pengganri Raja sanjaya, yaitu Rakai Panangkaran, selai itu dalam prasasti ini juga disebutkan tentang nama-nama raja Mataram kuno.

 

Agama Budha masuk ke Jawa Tengah pada masa pemerintahan Raja Panangkaran, dan dari keturunan Syailendra sudah ada yang memeluk agama Budha. Setelah kekuasaan Panangkaran berakhir, keluarga Syailendra terpecah menjadi dua :

a.       Kerajaan Mataram Kunmo yang Bercorak Hindu

Daerah kekuasaannya berada di Jawa Tengah bagian utara. Raja-rajanya yaitu Panunggalan, Warak Garung, dan Rakai Pikatan. Raja-rajanya termasuk kedalam Dinasti Sanjaya. Peninggalan yang berupa candi, yaitu komplek Candi Dieng (Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Puntadewa, Candi Nakula dan Candi Sadewa) yang dibangun oleh Dinasti Sanjaya.

b.      Kerajaan Mataram Kuno yang Bercorak Budha

Deerah kekuasaannya berada di Jawa Tengah bagian selatan. Raja-rajanya yaitu, Dharanendra, Samaratungga, Pramodhawardhani dan Balaputradewa. Raja-rajanya termasuk Dinasti Syailendra. Peninggalannya berupa candi, yaitu Candi Sewu, Candi Sari, Candi Pawon, Candi Mendhut, Candi Kalasan dan Candi Borobudur yang dibangun oleh Dinasti Syailendra.

 

Kerajaan Mataram Kuno disatukan kembali pada masa rakai Pikatan, karena Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Hindu menikah dengan Pramodhawardhani putri dari Dinasti Syailendra dari kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Budha. Saat itu kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Budha dipimpin oleh Balaputradewa, maka terjadi pertempuran atau perang saudara antara Pramodhawardhani dengan suaminya (Rakai Pikatan) di satu pihak, melawan Balaputradewa di pihak yang lain. Pada tahun 856 masehi Rakai Pikatan berhasil mengalahkan Balaputradewa, yang kemudian melarikan diri ke Sumatera dan menjadi Raja Sriwijaya.

Setelah Rakai Pikatan wafat digantikan oleh Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, Raja Daksa, Raja Tulodong dan Raja Wawa (merupakan Dinasti Sanjaya yang terakhir).

Pada tahun 929 masehi, ibukota kerajaan Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, dan berganti nama menjadi Kerajaan Medang dengan pusat pemerintahannya di antara Gunung Semeru dan Gunung Wilis. Mpu Sindok merupakan raja pertama dari Dinasti Isyana.

 

 

 

4.      Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan

Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang berdiri pada abad ke 7 masehi.

Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya :

a.       Dari dalam negeri

1)      Prasasti Kedukan Bukit (683 m)

Ditemukan di Palembang, menceritakan tentang Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang melakukan perjalanan suci dengan perahu dari Minanga Tamwan dengan diiringi oleh 20.000 tentara, dan kemudian membangun kota yang diberi nama Sriwijaya.

2)      Prasasti Talang Tuo (684 m)

Ditemukan di sebelah barat Palembang, menceritakan tentang pembuatan Taman Srikseta oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran rakyat.

3)      Prasasti Telaga Batu

Ditemukan di Palembang, menceritakan tentang kutukan-kutukan yang sangat menyeramkan terhadap siapa saja yang melakukan tindak kejahatan dan tidak taat terhadap perintah raja.

4)      Prasasti Karang Berahi (686 M)

Ditemukan di Karang Berahi, Jambi Hulu, menceritakan tentang permintaan kepada dewa untuk menghukum setiap orang yang bermaksud jahat terhadap kerajaan Sriwijaya.

5)      Prasasti Kota Kapur (686 M)

Ditemukan di kota Kapur pulau Bangka, menceritakan tentang usaha kerajaan Sriwijaya untuk menaklukan kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.

6)      Prasasti Palas Pasemah

Ditemukan di Palas Pasemah, Lampung Selatan dan menceritakan tentang didudukinya daerah Lampung selatan oleh Sriwijaya pada akhir abad ke 7 masehi.

 

b.      Dari luar negeri

1)      Prasasti Ligor (Malaysia) tahun775 M

Berisi tentang pembangunan Trisamaya Catya dan Raja yang memerintah bernama Wisnu dari Dinasti Syailendra.

2)      Prasasti Kanton (Cina)

Berisi tentang bantuan kerajaan Sriwijaya dalam memperbaiki sebuah kuil agama Thoo di Kanton, Cina.

3)      Berita dari Cina

Ditulis oleh seorang Pendeta Budha bernama I-Tsing.

 

 

5.      Kerajaan Kediri di Jawa Timur

Kerajaan Kediri berpusat di Daha.

Raja-raja yang memerintah :

a.       Jayawarsa

b.      Bameswara

c.       Jayabaya (1135 – 1157 M)

Empu Sedah menulis kitab Kakawin Bharatayudha yang kemudian dilanjutkan oleh Empu Panuluh. Selain itu Empu Panuluh juga menulis kitab Gatotkaca Sraya dan Hariwangsa.

d.      Sarmeswara (1159 – 1161 M)

e.       Aryeswara (1169 – 1171 M)

Membuat lencana kerajaan yang diberi nama Ganesha.

f.       Kameswara (1182 – 1185 M)

Empu Tanakung mengarang kitab Wirta Sancaya dan Empu darmaja mengubah Kakawin Smaradhana.

g.       Kertajaya (1190 – 1222 M)

Lencana kerajaannya bernama Sangka (siput terbang) dan Garudhamuka.

 

 

6.      Kerajaan Singasari di Jawa Timur

Didirikan oleh Ken Arok, dan membangun Dinasti baru yang bernama Dinasti Rajasa.

Raja-raja yang memerintah :

a.       Ken Arok (1222 – 1227 M)

Merupakan pendiri kerajaan Singosari setelah mengalahkan kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Kertajaya pada tahun 1222 M. Sumber sejarah mengenai Ken Arok dapat ditemui pada kitab Phararaton dan Negarakertagama.

b.      Anusapati (1227 – 1248 M)

Membunuh Ken Arok karena Ken Arok telah membunuh ayahnya (Raja Tunggul Ametung).

c.       Tohjoyo (1248 M)

Anak dari Ken Arok, karena dendam maka Tohjoyo membunuh Anusapati.

d.      Ranggawuni ( 1248 – 1268 M)

Memerintah setelah membunuh Tohjoyo.

 

 

 

 

7.      Kerajaan Majapahit di Jawa Timur

Beberapa faktor yang munculnya kerajaan Majapahit :

a.       Munculnya tokoh-tokoh negarawan seperti Raden Wijaya dan Gajah Mada.

b.      Tidak ada saingan kerajaan lain di Indonesia.

c.       Di luar Indonesia tidak ada lagi kerajaan besar.

d.      Letaknya yang strategis.

 

Sumber sejarah tentang Kerajaan Majapahit :

a.       Kitab Sutasoma karya Empu Tantular yang didalamnya terdapat kalimatBhineka Tunggal Ika.

b.      Kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca yang berisi tentang silsilah kerajaan Singosari dan Majapahit.

c.       Kitab Pararaton

d.      Kitab Ying Yai Shing-Lan karya dari Ma-Huan dari Cina.

 

Raja-raja yang memerintah :

a.      Raden Wijaya (1293 – 1309 M)

b.      Jayanegara atau Kala gemet (1309 – 1328 M)

Pada masa pemerintahannya banyak terjadi pemberontakan, diantaranya :

1)      Pemberontakan Ranggalawe di Tuban (1309 M)

2)      Pemberontakan Sora (1311 M)

3)      Pemberontakan Nambi ( 1316 M)

4)      Pemberontakan Semi (1318 M)

5)      Pemberontakan Kuti (1319 M)

 

c.       Tribhuana Tunggadewi (1328 – 1350 M)

Pada masa pemerintahannya Terjadi pemberontakan Sadeng yang dapat ditumpas oleh Gajah Mada. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih di kerajaan Majapahit.

d.      Hayam Wuruk (1350 – 1389 M)

Menjadi raja saat berusia 16 tahun, dan kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Sistem pemerintahannya sudah teratur dengan sangat baik seperti adanya Sapta Prabu, Dewan Menteri Besar dan Dewan Menteri di tingkat pusat, kemudian Bupati di tingkat tengah dan kepala desa di tingkat bawah.

e.       Wikramawardhana (1389 – 1429 M)

Terjadi perang saudara yang lebih dikenal dengan Perang Paregreg.

 

Faktor-faktor yang menyebabkan hancurnya Kerajaan Majapahit :

a.       Perang saudara

b.      Masuknya agama Islam

c.       Tidak adanya tokoh yang mampu memimpin dengan baik.

 

Peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit :

a.       Candi Jabung (Kraksaan, Probolinggo)

b.      Candi Tigawangi dan Candi Surawana (Pare, Kediri)

c.       Candi Tikus (Trowulan, Mojokerto)

d.      Candi Panataran, Candi Sawentar dan Candi Sumberjati (Blitar)

 

sumber: http://duniaguruku.blogspot.com/2011/03/perkembangan-pada-masa-hindu-budha-di.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


duniaclara

Someone, Somewhere...

Ulfa Widowati

Welcome ٩(^‿^)۶

damaikaningwijayanti

The greatest WordPress.com site in all the land!

duniadea

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Aisa Isfani

Just another WordPress.com site

Evania Istiqomah

A topnotch WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: